Pengunjung Camp

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini149
mod_vvisit_counterKemarin239
mod_vvisit_counterMinggu Ini1064
mod_vvisit_counterMinggu Kemarin1477
mod_vvisit_counterBulan Ini2877
mod_vvisit_counterBulan Kemarin0
mod_vvisit_counterAll399026

Online (20 minutes ago): 5
Your IP: 54.80.12.147
,
Now is: 2014-04-24 14:22
Berburu Nephentes di Gunung Perahu PDF Print E-mail

Dengan parang panjangnya, Demit, salah satu porter kami menebas rimbunan semak tanaman pakis. Agak kewalahan rupanya dia, membabat pakis di tebing hampir tegak lurus tanpa tali pengaman. Sedangkan Lowe Pro Nature Tracker yang hampir 20 kg di punggung, juga membuat kami susah bergerak. Sulur pakis, dan akar-akaran saja yang menopang badan kami. Setelah sempat menyusul Demit di tempat yang agak landai, saya dapati porter kami sedang menengadahkan kepalanya. Mulutnya terbuka lebar, dan tangan kanannya menuangkan air dari kantong tanaman Nephentes.



Bernard T. Wahyu Wiryanta; The Wildlife Photographers Community
Paulus Nugrohodjati; Wildlife Conservation Foundation

Slamet Darmokatidjo, porter kami ini lebih senang dipanggil dengan nama “Demit”. Anak muda pekerja serabutan ini adalah salah satu penduduk desa Sukorejo. Salah satu desa di lereng gunung Perahu di Jawa Tengah. Wajahnya tampak sumringah, setelah perjuangannya mendaki lereng gunung ini akhirnya membuahkan hasil. Setelah menemukan tanaman nephentes yang kami cari, diapun menghilangkan dahaganya dengan menuang air yang ada di kantong nephentes tersebut. “Segar”, katanya.

Dalam perjalan memburu tanaman Nephentes kali ini kami melewati lereng sebelah utara gunung perahu, mengingat di lereng ini hutannya masih lebat dan jarang didaki oleh ‘gerombolan’ pecinta alam. Gunung Perahu secara administratif masuk dalam wilyah Kab. Kendal, Kab Wonosobo, dan Kab. Banjarnegara. Kami memasuki wilayah gunung ini dari Desa Kenjuran, Kec. Sukorejo, Kab. Kendal.


Ketika mencapai lereng gunung, saya agak kecewa, suasananya sudah sangat berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu ketika saya terakhir merambah hutan ini. Lerengnya sudah banyak yang gundul untuk lahan pertanian. Dugaan saya populasi kolokecipo juga sudah susut. Benar saja, ditengah perjalanan kami berjumpa dengan 2 penduduk lokal dan 1 orang pemuda dengan menggendong ransel layaknya ‘pecinta alam’. Penduduk lokal tadi tampak membawa satu ikat tanaman kantong semar berwarna merah. Menurut pengakuannya, setelah di tanam di pot, tanaman tersebut dijual seharga Rp 80.000,-. Ketika kami menanyakan keberadaan tanaman tadi, dan mengaku hanya untuk difoto, kedua penduduk tadi menunjukkan suatu lokasi. Kemudian kami ketahui ternyata jawaban mereka bohong. Rupanya mereka takut ‘ladang perburuan’ mereka kami ambil alih. Padahal kami hanya berburu dengan kamera, lain tidak. 


Setelah seharian menyusuri lereng tanpa hasil, akhirnya kami membuka tenda. Sejak setengah perjalanan, kami sudah disambut dengan hujan, kabut, angin kencang dan suhu dingin. Tak ada jejak pitcher plant yang terlihat, apalagi terekam oleh kamera. Padahal sepuluh tahun yang lalu jalan yang kami lewati ini merupakan habitat jutaan tanaman kantong semar. Di tempat kami membuka tenda ini, dilereng sebuah jurang, kami mendengar auman macan, yang menurut dugaan saya adalah suara macan kumbang. Akhirnya bertiga kami menyiapkan senjata kami. Saya menenteng D1X dengan lensa 200-400 mm, dan menyelipkan kampak genggam di pinggang. Sedangkan Paulus bersenjatakan F5 dengan lensa wide dan pisau rimba. Sedangkan porter kami menenteng parang, membututi kami dari belakang. Sambil menyusuri lereng tegak lurus, kami terus mengikuti suara macan yang sedang berkelahi. Namun sesampainya di dasar lembah, hanya tersisa bekas perkelahiannya saja. Angin gunung dari atas rupanya membawa bau kami sampai ke hidung kedua macan yang berlatih bertarung tadi, dan merekapun menyingkir.


Di Gunung Perahu ini, paling tidak ada sekitar 3 jenis kantong semar. Yang pertama kantong semar berwarna merah, dengan panjang sekitar 10 cm dan diameter 2,5 cm. Kedua kantong semar berwarna hijau kekuningan, ini yang paling besar. Panjangnya bisa mencapai 25 cm dengan diameter bibir mencapai 4 cm. Yang ketiga jenis yang paling kecil berwarna hijau dengan campuran warna merah, berduri. panjangnya hanya sekitar 5 cm dengan diameter bibir 1 cm.

Pagi-pagi kami akhirnya melanjutkan perjalanan ke ‘puncak teletubies’. Puncak ini dipenuhi dengan rumput, mirip sabana dengan aneka warna bunga, dan beberapa bukit yang mirip dengan film kartun ‘teletubies’, hingga dinamakan demikian. Sepanjang perjalanan beberapa kali kami temui jejak-jejak babi hutan dan macan, yang menurut pengakuan pemandu kami adalah jejak macan dahan dan macan kumbang. (perburuan kedua binatang ini akan menjadi agenda ekspedisi kami di kemudian hari, mungkin di awal atau akhir musim kemarau).


Ketika mendekati puncak, kami akhirnya berhasil menjumpai beberapa tanaman kantong semar. Porter kami lah yang menemukannya pertama kali, dan langsung merayakan dengan meminum air dikantong. ‘Mbah’ penunggu gunung pun agaknya sedikit ramah, kami diberi cuaca agak bersahabat, setelah sebelumnya hujan, kabut dan badai menerjang sepanjang perjalanan kami. Walaupun hanya 5 menit, cukuplah untuk memencet tombol pelepas rana beberapa kali. Selesai melepas rana, kami melanjutkan perjalanan ke puncak, kemudian turun lewat kawasan wisata Dieng Plateau.

Beberapa tanaman lain, seperti kemolekan bunga rododendroon, cantigi, edelweis dan beberapa bunga serta jamur beraneka warna, termasuk puncak teletubies tidak sempat terekam oleh CCD Nikon D100, maupun di slide dan rol film kamera Nikon F801, F3, F4, dan F5 kami. Hujan badai, kabut, dan minimnya suhu udara, membuat kami terlalu sayang untuk mengeluarkan senjata kami yang kami peroleh dengan membongkar tabungan kami selama beberapa tahun. Ketika nekat mengeluarkan Nikon F3 yang terkenal bandel pun (kami memang sengaja membawanya untuk hancur-hancuran), kami urung memotret. Dengan bukaan lensa 1,2 pun, kami tidak memperoleh speed yang ideal. Akhirnya ‘kamera perang’ basah yang tambah berat karena ditambah MD4 tadi kita jadikan satu di ransel bersama saudaranya F801, F4, F5, D100 dan beberapa lensa panjang yang semakin menambah berat ransel kami karena hujan.